Home > Abjad > Peribahasa Indonesia Abjad H

Peribahasa Indonesia Abjad H

ads

Berikut kumpulan peribahasa bahasa Indonesia yang dimulai abjad H. Silakan baca dan dapatkan inspirasinya di bawah ini.

Peribahasa-peribahasa biasanya menggunakan untaian kata perumpaan yang indah dan memiliki arti-arti yang baik dan bijaksana. Peribahasa biasanya dipakai untuk menyampaikan nasihat, anjuran, sampai teguran, bahkan sindiran. Tujuannya tidak lain agar kita mendapat pandangan hidup yang baik sehingga hidup kita menjadi baik juga. Kebijakan arif ini sudah ada dari jaman nenek moyang dan diturun kepada kita sampai sekarang ini. Semoga bermanfaat.

Peribahasa Indonesia Abjad H

Habis adat karena kerelaan.
Adat dapat diubah atau ditiadakan oleh muafakat, dengan persetujuan atau perdamaian.
Habis air setelaga, arang dibasuh tak putih.
Orang jahat, biarpun diberi kesenangan, namun kalau mendapat kesempatan akan diulangnya juga perbuatan jahatnya itu.
Habis akal baru tawakal.
Berserah diri kepada Tuhan sesudah habis semua ikhtiar.
Habis beralur maka beralu-alu. (beralur = berunding).
Mula-mula berunding dengan baik, tetapi kalau tidak dapat juga mencapai persetujuan barulah kekuatan tenaga diadu.
Habis cupak dari pelelehan.
Adat yang dilanggar sedikit demi sedikit itu akhirnya akan dilanggar semua sekali. (pelelehan (leleh) = tiris, bocor.)
Habis geli oleh geletek, habis rasa (= bisa) oleh biasa.
Sesuatu yang kurang menyenangkan itu akan hilang, apabila telah menjadi kebiasaan.
Habis hulubalang bersiak. (siak = orang yang hidup miskin karena Allah).
Apabila sudah tidak ada orang yang akan diperintah, maka diri sendirilah yang harus mengerjakannya.
Habis kapak berganti beliung.
Sangat rajin bekerja.
Habis kuman disembelih hendak memberi makan gajah.
Menyusahkan orang kecil karena hendak menyenangkan orang besar-besar.
Habis manis sepah dibuang.
Digunakan sewaktu ada perlunya saja, setelah itu ditinggalkan.
Habis miang karena bergeser.
Sesuatu kesukaran akan hilang apabila sudah menjadi kebiasaan.
Habis minyak sepasu, ekor anjing diurut tiada akan lurus.
Tabiat seseorang yang jahat, sangat sukar hendak diubah.
Habis sampan kerong-kerong tak dapat
Melakukan perbuatan yang sia-sia .
Habis tenggang dan (= dengan) kelakar.
Tidak berdaya lagi.
Habis umpan kerong-kerong tak dapat.
Perbuatan dan usaha yang mendatangkan rugi.
Hancur badan dikandung tanah, budi baik terkenang juga.
Budi bahasa yang baik tidak akan dilupakan orang walaupun sudah mati.
Hang tak kurang sanggul, aku tak kurang tengkolok.
Hilang satu ada lagi ganti yang lain (tentang lelaki dan perempuan).
Hangat tiada berapi, sejuk tiada berair.
Orang jahat, biarpun diberi kesenangan, namun kalau mendapat kesempatan akan diulangnya juga perbuatan jahatnya itu.
Hangat-hangat tahi (= cirit) ayam.
Tidak bersungguh-sungguh.
Hanya air dingin yang dapat memadamkan api.
Kata-kata yang lemah-lembut saja yang dapat mendinginkan hati yang sedang marah.
Hanyut dipintasi, lulus diselami, hilang dicari.
Menolong seseorang yang ditimpa kesusahan.
Harap hati hendak peluk gunung, apa akal (= daya) tangan tak sampai.
Kehendak hati terlalu besar sehingga tiada upaya untuk mencapainya.
Harap hendak melonjak, kopiah pesuk.
Segala harta-benda habis dibelanjakan, karena hendak hidup mewah.
Harap hendak meraup, tidak boleh menggenggam. (meraup = mencedok dengan tangan).
Segala harta-benda habis dibelanjakan, karena hendak hidup mewah.
Harap ke mulut besar cakap, kerja suatu tak boleh cekap.
Cakapnya saja yang besar tetapi buktinya tidak ada.
Harap lenggang serdadu, destar teleng, belanja kurang.
Gaya saja yang gagah, tetapi tidak beruang.
Harapkan anak, buta mata sebelah; harapkan teman, buta keduanya.
Dalam membuat sesuatu pekerjaan, janganlah diharapkan kepada orang lain; walaupun kepada anak sendiri.
Harapkan burung terbang tinggi, punai di tangan dilepaskan.
karena mengharapkan keuntungan yang besar tetapi belum tentu diperoleh, keuntungan yang kecil tetapi sudah pasti, dilepaskan.
Harapkan guruh (= guntur) di langit, air tempayan ditumpahkan.
karena mengharapkan keuntungan yang besar tetapi belum tentu diperoleh, keuntungan yang kecil tetapi sudah pasti, dilepaskan.
Harapkan kuning kuah kambeh, cangkuk terubuk ditinggalkan.
karena mengharapkan keuntungan yang besar tetapi belum tentu diperoleh, keuntungan yang kecil tetapi sudah pasti, dilepaskan. (kambeh = peria; cangkuk = pekasam.)
Harapkan si untung menggamit, kain di badan didedahkan.
karena mengharapkan keuntungan yang besar tetapi belum tentu diperoleh, keuntungan yang kecil tetapi sudah pasti, dilepaskan.
Harapkan si untut menggamit, kain koyak diupahkan.
Percaya kepada orang yang sangat malas.
Hari baik (= pagi) dibuang-buang, hari buruk (= petang) dikejar-kejar.
Masa yang baik dibiarkan lalu, kemudian tergopoh-gopoh mengejar waktu yang sudah sempit.
Hari guruh takkan hujan.
Orang yang terlalu marah biasanya tidak sampai memukul.
Hari ini patutlah redup (= panas keras).
Mengharapkan sesuatu keuntungan; sangkaan yang tidak baik.
Hari ini sedang panas panjang, kacang telah lupakan kulitnya.
Orang miskin jadi kaya, lupa akan dirinya.
Hari ini terlebih baik daripada besok.
Yang dapat diusahakan hari ini janganlah ditangguhkan sampai besok.
Hari tak selamanya panas.
Untung dan malang silih berganti.
Hari tidak siang saja.
Tidak selamanya senang terus-menerus.
Harimau bertempek tak (kan) makan orang.
Orang yang terlalu marah biasanya tidak sampai memukul.
Harimau ditakuti sebab giginya.
Orang besar-besar itu ditakuti karena kekuasaannya.
Harimau hendak menghilangkan jejaknya.
Orang jahat hendak menyembunyikan kejahatannya.
Harimau mati karena belangnya.
Mendapat kecelakaan karena kelebihannya.
Harimau mati meninggalkan belang, gajah mati meninggalkan daging, manusia mati meninggalkan nama.
Orang baik meninggalkan nama baik, orang jahat meninggalkan nama jahat.
Harimau memperlihatkan kukunya.
Orang yang memperlihatkan kekuasaannya.
Harimau mengaum takkan menangkap.
Orang yang terlalu marah biasanya tidak sampai memukul.
Harimau menunjukkan belangnya.
Orang yang memperlihatkan kekuasaannya.
Harimau menyorokkan kuku.
Orang yang menyembunyikan kelebihannya.
Harimau puntung kena penjara, pelanduk kecil menolakkan mara.
Ada masanya kesusahan orang besar lagi berkuasa itu ditolong oleh orang yang lemah dan kecil.
Harimau tidak merendahkan dirinya untuk menangkap cicak sebagai mangsanya.
Orang besar yang tidak mau bertindak dengan tindakan-tindakan yang merendahkan tarafnya.
1 2 3 4 Next >>

Semoga Peribahasa Indonesia Abjad H ini bermanfaat dan memberi inspirasi. Baca juga peribahasa abjad: A | B | C | D | E | F | G | H | I | J | K | L | M | N | O | P | Q | R | S | T | U | V | W | X | Y | Z

Suka halaman ini? Beritahu teman:

  

Peribahasa Popular
Bijak | Cinta | Kehidupan | Rohani | Persahabatan | Lucu / Plesetan | Jawa | Sunda | Lampung

Peribahasa Abjad
A | B | C | D | E | F | G | H | I | J | K | L | M | N | O | P | Q | R | S | T | U | V | W | X | Y | Z