|
|
|
| Kumpulan
Peribahasa Kehidupan |
|
|
|
Kumpulan peribahasa kehidupan yang indah untuk hidup yang lebih baik. Baca dan
dapatkan inspirasinya di bawah ini:
Habis beralur maka beralu-alu. (beralur = berunding).
Mula-mula berunding dengan baik, tetapi kalau tidak dapat juga mencapai persetujuan barulah kekuatan tenaga diadu. |
Habis cupak dari pelelehan.
Adat yang dilanggar sedikit demi sedikit itu akhirnya akan dilanggar semua sekali. (pelelehan (leleh) = tiris, bocor.) |
Habis geli oleh geletek, habis rasa (= bisa) oleh biasa.
Sesuatu yang kurang menyenangkan itu akan hilang, apabila telah menjadi kebiasaan. |
Habis hulubalang bersiak. (siak = orang yang hidup miskin karena Allah).
Apabila sudah tidak ada orang yang akan diperintah, maka diri sendirilah yang harus mengerjakannya. |
Habis kapak berganti beliung.
Sangat rajin bekerja. |
Habis kuman disembelih hendak memberi makan gajah.
Menyusahkan orang kecil karena hendak menyenangkan orang besar-besar. |
Habis manis sepah dibuang.
Digunakan sewaktu ada perlunya saja, setelah itu ditinggalkan. |
Habis miang karena bergeser.
Sesuatu kesukaran akan hilang apabila sudah menjadi kebiasaan. |
Habis sampan kerong-kerong tak dapat
Melakukan perbuatan yang sia-sia . |
Habis tenggang dan (= dengan) kelakar.
Tidak berdaya lagi. |
Habis umpan kerong-kerong tak dapat.
Perbuatan dan usaha yang mendatangkan rugi. |
Hancur badan dikandung tanah, budi baik terkenang juga.
Budi bahasa yang baik tidak akan dilupakan orang walaupun sudah mati. |
Hang tak kurang sanggul, aku tak kurang tengkolok.
Hilang satu ada lagi ganti yang lain (tentang lelaki dan perempuan). |
Hangat tiada berapi, sejuk tiada berair.
Orang jahat, biarpun diberi kesenangan, namun kalau mendapat kesempatan akan diulangnya juga perbuatan jahatnya itu. |
Hangat-hangat tahi (= cirit) ayam.
Tidak bersungguh-sungguh. |
Hanya air dingin yang dapat memadamkan api.
Kata-kata yang lemah-lembut saja yang dapat mendinginkan hati yang sedang marah. |
Hanyut dipintasi, lulus diselami, hilang dicari.
Menolong seseorang yang ditimpa kesusahan. |
Harap hati hendak peluk gunung, apa akal (= daya) tangan tak sampai.
Kehendak hati terlalu besar sehingga tiada upaya untuk mencapainya. |
Harap hendak melonjak, kopiah pesuk.
Segala harta-benda habis dibelanjakan, karena hendak hidup mewah. |
Harap hendak meraup, tidak boleh menggenggam. (meraup = mencedok dengan tangan).
Segala harta-benda habis dibelanjakan, karena hendak hidup mewah. |
Harap ke mulut besar cakap, kerja suatu tak boleh cekap.
Cakapnya saja yang besar tetapi buktinya tidak ada. |
Harap lenggang serdadu, destar teleng, belanja kurang.
Gaya saja yang gagah, tetapi tidak beruang. |
Harapkan burung terbang tinggi, punai di tangan dilepaskan.
karena mengharapkan keuntungan yang besar tetapi belum tentu diperoleh, keuntungan yang kecil tetapi sudah pasti, dilepaskan. |
Harapkan guruh (= guntur) di langit, air tempayan ditumpahkan.
karena mengharapkan keuntungan yang besar tetapi belum tentu diperoleh, keuntungan yang kecil tetapi sudah pasti, dilepaskan. |
Harapkan kuning kuah kambeh, cangkuk terubuk ditinggalkan.
karena mengharapkan keuntungan yang besar tetapi belum tentu diperoleh, keuntungan yang kecil tetapi sudah pasti, dilepaskan. (kambeh = peria; cangkuk = pekasam.) |
Harapkan si untung menggamit, kain di badan didedahkan.
karena mengharapkan keuntungan yang besar tetapi belum tentu diperoleh, keuntungan yang kecil tetapi sudah pasti, dilepaskan. |
Harapkan si untut menggamit, kain koyak diupahkan.
Percaya kepada orang yang sangat malas. |
Hari baik (= pagi) dibuang-buang, hari buruk (= petang) dikejar-kejar.
Masa yang baik dibiarkan lalu, kemudian tergopoh-gopoh mengejar waktu yang sudah sempit. |
Hari guruh takkan hujan.
Orang yang terlalu marah biasanya tidak sampai memukul. |
Hari ini patutlah redup (= panas keras).
Mengharapkan sesuatu keuntungan; sangkaan yang tidak baik. |
Hari ini sedang panas panjang, kacang telah lupakan kulitnya.
Orang miskin jadi kaya, lupa akan dirinya. |
Hari tak selamanya panas.
Untung dan malang silih berganti. |
Hari tidak siang saja.
Tidak selamanya senang terus-menerus. |
Harimau bertempek tak (kan) makan orang.
Orang yang terlalu marah biasanya tidak sampai memukul. |
Harimau hendak menghilangkan jejaknya.
Orang jahat hendak menyembunyikan kejahatannya. |
Harimau mati karena belangnya.
Mendapat kecelakaan karena kelebihannya. |
Harimau memperlihatkan kukunya.
Orang yang memperlihatkan kekuasaannya. |
Harimau mengaum takkan menangkap.
Orang yang terlalu marah biasanya tidak sampai memukul. |
Harimau menunjukkan belangnya.
Orang yang memperlihatkan kekuasaannya. |
Harimau menyorokkan kuku.
Orang yang menyembunyikan kelebihannya. |
Harimau tidak merendahkan dirinya untuk menangkap cicak sebagai mangsanya.
Orang besar yang tidak mau bertindak dengan tindakan-tindakan yang merendahkan tarafnya. |
Harta orang hendak digalas.
Orang yang mau mengambil harta orang lain. |
Harta orang hendak dikebas.
Orang yang mau mengambil harta orang lain. |
Harta pulang ke tuan (= empunya).
Sudah pada tempatnya. |
Harum menghilangkan bau.
Keburukan telah dilindungi oleh kebaikan. |
Harum semerbak mengandung mala. (mala = air bangkai yang telah busuk).
Jasa yang dipuji-puji, tetapi jasa itu diperoleh dengan jalan yang curang. |
Haruslah air disauk, dan ranting dipatah; lama hidup banyak merasa, jauh berjalan banyak dilihat.
Orang yang merantau haruslah menurut adat kebiasaan tempat yang didiaminya. |
Hati bagai baling-baling.
Pendirian yang tidak tetap. |
Hati bagai pelepah, jantung bagai jantung pisang.
Orang yang tidak ada perasaan. |
Hati bak serangkak dibungkus.
Sangat berharap-harap akan mendapat sesuatu yang diingini. |
Hati gatal mata digaruk.
Ingin mengerjakan sesuatu tetapi tidak berdaya karena kurang ilmu dan tidak cekap. |
Hawa pantang kerendahan, nafsu pantang kekurangan.
Hawa nafsu tiada mau kalah daripada orang lain. |
Hempas tulang tak berbalas jasa.
Berpenat telah tetapi tidak ada hasilnya. |
Hendak air pancuran terbit.
Yang diperoleh lebih daripada yang dikehendaki. |
Hendak belajar berenang dapatkan itik, hendak belajar memanjat dapatkan tupai.
Hendak mengetahui sesuatu perkara bertanyalah kepada orang yang ahli dalam perkara itu. |
Hendak bersunting bunga mala.
Hendak beristeri perempuan tua. |
Hendak bersunting bunga yang belum diseri kumbang.
Hendak beristeri anak gadis. |
Hendak bertanduk kepala dipahat.
karena hendak menunjukkan kemegahan, rela berhutang atau berbuat sesuatu yang dapat mendatangkan bencana kepada diri sendiri. |
Hendak dimasukkan ke dalam sumpit tak maut; ke dalam keranjang longgar.
Sesuatu yang tidak sempurna menyebabkan keadaan menjadi sukar. |
Hendak ditelan termengkelan, hendak diludah tiada keluar.
Menghadapi sesuatu masalah yang sangat sulit; dalam keadaan yang serba salah. |
Hendak harum terlalu hangit.
karena terlalu hendak meninggikan diri akhirnya mendapat malu. |
Hendak hinggap tiada berkaki.
Ingin berbuat sesuatu tetapi tidak berdaya. |
Hendak kerja golok Keling, hendak makan parang punting.
Malas bekerja tetapi banyak makan. |
Hendak mara bedil bertinak, hendak undur gelar telah besar.
Keadaan yang serba salah pada orang yang telah diberi pangkat; hendak memelihara tarafnya tiada cukup uangnya, hendak undur malu karena pangkatnya sudah tinggi. |
Hendak masak langsung hangus.
karena terlalu hendak meninggikan diri akhirnya mendapat malu. |
Hendak melangkah kaki pendek, hendak mencapai tangan tak sampai.
Ingin membuat sesuatu pekerjaan tetapi tidak berdaya karena kekurangan uang dan alat. |
Hendak memadam api tengah menyala, disiramkan minyak pula ke atasnya.
Orang yang sedang marah malah diapi-apikan pula. |
Hendak memikat balam, balam jugalah penunggunya.
Hendak mencari orang pandai, maka orang yang pandai pulalah yang tahu mencarinya. |
Hendak menangguk ikan, tertangguk akan batang.
Hendakkan laba, rugi yang diperoleh. |
Hendak mendapat pisang terkupas.
Inginkan kesenangan tetapi malas berusaha. |
Hendak menebang merebahkan, hendak mencencang memutuskan.
Hendak berbuat sesuka hati saja, tanpa memikirkan sesuatu yang lain. |
Hendak mengayuhkan perahu tertambat.
Hendak kawin dengan perempuan yang masih dalam edahnya. |
Hendak mengepal pasir kering.
Membuat pekerjaan yang sukar. |
Hendak menggaruk tidak berkuku.
Hendak berusaha tetapi alat syaratnya tiada ada. |
Hendak panjang terlalu, patah.
karena terlalu hendak meninggikan diri akhirnya mendapat malu. |
Hendak sombong berbini banyak, hendak megah berlawan lebih.
karena hendak memperlihatkan ketinggian diri, maka hidup dalam kesukaran. |
Hendak terbang tiada bersayap.
Ingin berbuat sesuatu tetapi tidak berdaya. |
Hendak tinggi terlalu, jatuh.
karena terlalu hendak meninggikan diri akhirnya mendapat malu. |
Hendak ulam, pucuk menjulai.
Yang diperoleh lebih daripada yang dikehendaki. |
Hendak untung menjadi buntung.
Hendakkan laba, rugi yang diperoleh. |
Hendak(nya) saja yang besar, masuknya tak (se)berapa.
Banyak cakap, tetapi buktinya sedikit sekali. |
Hendakkan halus, genting; genting putus sudahnya.
Perbuatan yang melebihi batasnya tentu tidak selamat dan akhirnya akan mendatangkan kerugian. |
Hidung tak mancung, pipi tersorong-sorong.
Suka ikut campur dalam urusan orang lain; menonjol-nonjolkan diri. |
Hidup di hujung gurun orang.
Hidup melarat. |
Hidup dua muara.
Hidup dengan dua macam pencarian. |
Hidup segan mati tak mau (= embuh).
Hidup melarat (miskin atau selalu sakit-sakit). |
Hidup tidak karena doa, mati tidak karena sumpah.
Berusahalah dengan tenaga dan fikiran sendiri, dan jangan mengharapkan sangat pertolongan orang lain. |
Hilang adat tegal muafakat.
Adat kebiasaan boleh diubah asalkan ada persetujuan orang banyak. |
Hilang bahasa lenyap bangsa.
Apabila sesuatu bahasa itu sudah tidak terpakai lagi maka lambat-laun hilanglah bangsa itu; hilang budi bahasa hilang derajat (darjat) diri. |
Hilang jasa beliung, timbul jasa rimbas. (rimbas = perkakas untuk penarah kayu.)
Orang lain yang berbuat kebaikan (berlelah payah), orang lain pula yang mendapat pujian. |
Hilang pelanduk berganti kijang emas.
Perempuan yang bercerai daripada suaminya yang hina kemudian kawin dengan seorang lelaki yang mulia. |
Hilang penjahit berkerbau-kerbau.
Lebih banyak ongkos perkara daripada harga barang-barang yang diperkarakan. |
Hilang rona karena penyakit, hilang bangsa tidak beruang.
Orang yang tidak berharta (beruang) kurang dihargai orang. |
Hilang sepuh nampak senam. (sepuh = sadur; senam = warna yang asal.)
Tampak kejahatannya, sesudah terbuka Rahasianya. |
Hilang tak tentu rimbanya.
Hilang tidak berbekas. |
Hilang tentu rimbanya, mati tentu kuburnya.
Sesuatu hal atau perkara yang sudah tentu kesudahannya. |
Hinggap bak langau, titik bak hujan.
Hal yang terjadi dengan tiba-tiba (kemalangan dan sebagainya). |
Hinggap saja bagai langau.
Hal yang terjadi dengan tiba-tiba (kemalangan dan sebagainya). |
Hinggap seperti benalu. (benalu = pasilan.)
Menumpang, kemudian merusakkan tempat tumpangannya itu. |
Hitam bagai buntut (= pantat) belanga.
Perihal keburukan sifat seseorang. |
|
|
|