Likes:
Abjad: A | B | C | D | E | F | G | H | I | J | K | L | M | N | O | P | Q | R | S | T | U | V | W | X | Y | Z
 
Kumpulan Peribahasa Kehidupan
Kumpulan peribahasa kehidupan yang indah untuk hidup yang lebih baik. Baca dan dapatkan inspirasinya di bawah ini:
Hitam dikatakan putih, putih dikatakan hitam.
Yang buruk dikatakan baik, yang baik dikatakan buruk; berdusta.
Hitam gagak tiada siapa yang mencelupnya.
Orang yang berbuat jahat dengan kehendaknya sendiri.
Hitam tahan tempa, putih tahan sesah.
Dapat diuji, tentang keasliannya; tetap tidak berubah.
Hitam-hitam bendi, putih-putih sadah. (bendi = kereta kuda; sadah = kapur.)
Yang buruk lebih mahal harganya daripada yang cantik.
Hitam-hitam kereta api, putih-putih kapur sirih.
Yang buruk lebih mahal harganya daripada yang cantik.
Hujan berbalik ke langit.
Orang berkuasa minta pertolongan kepada orang yang lemah.
Hujan emas di negeri orang, hujan batu (= keris lembing) di negeri sendiri, baik juga di negeri sendiri.
Walau bagaimanapun mewah dan makmurnya negeri orang, namun negeri sendiri juga yang lebih baik.
Hujan emas perak di negeri orang; hujan keris lembing di negeri kita; baik juga di negeri kita.
Walau bagaimanapun mewah dan makmurnya negeri orang, namun negeri sendiri juga yang lebih baik.
Hujan jatuh ke pasir.
Berbuat baik tidak pada tempatnya.
Hujan menimpa bumi.
Tiada dapat melepaskan diri daripada perintah orang-orang yang berkuasa.
Hujan, tempat berteduh; panas, tempat berlindung.
Orang yang selalu memberi pertolongan kepada orang-orang yang mendapat kesusahan.
Hujung lurus, pangkal berkait.
Kelihatannya baik, tetapi di dalam hatinya jahat.
Hukum yang rata, adat yang datar.
Sesuatu yang sama baiknya.
Hulu malang pangkal celaka.
Permulaan segala bencana.
Hutang (= pinjam) kayu ara.
Hutang yang tak mungkin terbayar.
Hutang biduk belum langsai, Hutang pengayuh datang pula.
Hutang yang dulu belum dibayar, sudah berhutang lagi.
Hutang samir belum selesai, hutang kajang tumbuh pula.(kajang =benda yang dianyam daripada daun nipah (buluh, mengkuang, dll) digunakan untuk atap atau pelindung daripada panas
Hutang yang dulu belum dibayar, sudah berhutang lagi.
Hutang sebelit (selilit) pinggang.
Sangat banyak hutangnya.
Hutang tembilang belum langsai, Hutang tajak bila pula.
Hutang yang dulu belum dibayar, sudah berhutang lagi.
Hutang tiap helai bulu.
Sangat banyak hutangnya.
Iba akan kacang sebuah, tak jadi memengat.
karena sayang akan perkara yang sedikit, tak tercapai apa yang dimaksudkan.
Ibarat ayam: tiada mengais tiada makan.
Sangat miskin.
Ibarat beban sudah ke tepi.
Suatu pekerjaan yang sudah hampir selesai, atau rundingan yang hampir mencapai kata sepakat. (ke tepi = maksudnya: sudah di pintu, akan dibawa turun.)
Ibarat beban, belum lepas daripada bahu
Belum lepas daripada tanggungan (anak lelaki atau anak perempuan).
Ibarat bunga: sedap dipakai layu dibuang.
Perempuan yang dikasihi sementara muda, tetapi setelah tua lalu diceraikan. (sedap = maksudnya: segar.)
Ibarat burung: mata lepas badan terkurung.
Tidak ada kemerdekaan.
Ibarat gasing: berpaku tetap berpusing, tak berpaku merayau.
Lelaki yang sudah beristeri, biar bagaimanapun ia berjalan namun ia tetap akan kembali ke rumahnya juga.
Ibarat negeri berubah rasam; ibarat tahun berubah musim.
Orang yang tidak tetap kedudukannya. (rasam = adat, kebiasaan.)
Ibarat pasir: sekali air dalam sekali berubah.
Rakyat jelata terpaksa menurut perubahan pada tiap-tiap kali pemerintahan bertukar.
Ibarat perahu takkan karam sebelah.
Kaum keluarga ikut bersimpati atas kecelakaan yang menimpa kerabatnya.
Ibarat rumput yang sudah kering, ditimpa hujan segar kembali.
Orang melarat mendapat pertolongan.
Ijuk sebelembang, tali di situ keluan di situ.(sebelembang = seberkas.)
Pencarian yang tiada memadai.
Ijuk tak bersagar, lurah tak berbatu
Tidak mempunyai saudara yang disegani orang
Ikan biar dapat, serampang jangan pukah.
Maksud biar tercapai, kerugian jangan ada. (serampang = tempuling; pukah = bengkok, patah.)
Ikan dalam keroncong.(keroncong = bilik-bilik bubu sebelah dalam.)
Tiada tertolong lagi (Tentang: Orang yang telah tertangkap).
Ikan di hulu tuba di hilir.
Perbuatan yang sia-sia.
Ikan di kuali, habis melompat.
Nasib yang malang.
Ikan digulai sudah melompat.
Nasib yang malang.
Ikan lagi di laut, lada garam sudah di sengkalan.
Sudah bersiap sedia untuk mengecap hasil yang belum lagi diperoleh. (sengkalan = pengisar rempah-rempah.)
Ikan pulang ke lubuk.
Telah kembali ke tempat asalnya.
Ikan seekor rusakkan ikan setajau.(tajau = tempayan besar dibuat daripada tanah berlapis sejenis porcelain.)
karena yang sedikit rusak yang banyak.
Ikan sekambu rusak oleh ikan seekor.
karena yang sedikit rusak yang banyak.
Ikan tergantung, kucing tunggu.
Mengharapkan untuk memperoleh barang yang diingini.
Ikan terkilat (= terkilap) jala tiba.
Sangat cepat menangkap maksud perkataan orang: tindakan yang cepat.
Ikannya belum dapat, airnya sudah keruh.
Perbuatan (= tindakan) yang tidak bijaksana.
Inai tertepung, kuku tanggal.
Usaha yang tak dapat diambil hasilnya karena terjadi kemalangan. (tertepung = sudah digiling.)
Indah kabar daripada rupa.
Perkabaran selalu dilebih-lebihkan daripada keadaan yang sebenarnya.
Ingin di buah manggis hutan, masak ranum tergantung tinggi.
Inginkan sesuatu yang sudah diperoleh.
Ingin hati memandang (= melihat) pulau, sampan ada pengayuh tidak.
Ingin hendak berbuat sesuatu pekerjaan, tetapi alatnya tidak cukup.
Intan berlian jangan dipijakkan.
Untung bahagia jangan dielakkan.
Intan dikalungkan di leher anjing.
Memberikan sesuatu (barang, nasihat) kepada orang yang tidak mau atau bukan pada tempatnya.
Intan disangkakan batu kelikir.
Tidak mengetahui harga (keadaan) yang sebenarnya.
Isi lemak dapat ke orang, tulang bulu pulang ke kita.
Kita yang berusaha, orang lain yang senang.
Itik berenang dalam air (= di laut) mati kehausan.
Menderita kesusahan meskipun banyak uang atau berpangkat tinggi.
Itik bertaji.
Sangat penakut, tetapi sombong.
Itik diajar berenang.
Membuat pekerjaan yang sia-sia.
Itik mendapat air.
Memperoleh sesuatu yang sangat digemarinya.
Itik tak sudu, ayam tak patuk.
Tersisih daripada pergaulan karena kemiskinan.
Jadi air mandi.
Sudah jadi kebiasaan.
Jadi alas cakap.
Hadiah kepada orang yang berjasa.
Jadi bapa kuda.
Orang lelaki yang suka kawin di sana sini dan bersenang-senang di rumah isterinya, tanpa membuat sesuatu pekerjaan.
Jadi bumi langit.
Orang yang sangat diharapkan pertolongannya dan segala nasihatnya dituruti.
Jadi dinding lasak peti manian.
Orang yang menjadi harapan raja atau orang besar-besar. (lasak = masuk, muat, isi; peti manian = tempat simpanan pakaian dan barang-barang yang berharga.)
Jadi kuda beban.
Orang suruhan.
Jadi penghubung hujung lidah (= mulut).
Orang yang menyampaikan pesan seseorang dalam suatu perundingan atau peralatan.
Jadi penghubung kaki tangan.
Tempat harapan atau kepercayaan yang selalu memberi pertolongan.
Jadi penghubung mata telinga.
Tempat harapan atau kepercayaan yang selalu memberi pertolongan.
Jadi teluk ulakan air.
Perundingan atau perdebatan yang berputar-putar di situ-situ saja.
Jahit sudah, kelindan putus. (kelindan = benang pada jarum.)
Habis (= selesai) sama sekali.
Jalan diasak orang lalu, cupak dipepat orang menggalas. (diasak = dipindahkan; orang lalu = peladang; pepat = rata, dipangkas.)
Adat istiadat dalam suatu negeri telah diubah oleh orang asing yang tinggal di dalam negeri itu.
Jalan mati lagi dicuba, inikan pula jalan binasa.
Orang yang berani dan tidak memilih perbuatannya. (titian = jambatan kecil.)
Jalan raya titian batu.
Adat (= aturan) yang belum berubah-ubah.
Jambatan emas.
Jalan mencapai bahagia.
Janda belum berlaki.
Gadis yang sudah ditinggalkan oleh lelaki yang menjadi kekasihnya.
Janda berhias.
Janda yang belum beranak.
Jangan bagai babi merasa gulai.
Orang yang hina tidak patut berjodoh dengan orang bangsawan.
Jangan bagai orang patah selera, banyak makan.(patah selera = tak bernafsu makan.)
Pura-pura tidak mau, tetapi dalam hati suka sekali.
Jangan bawa resmi jagung: makin berisi makin jegang (= tegak).
Makin kaya (berilmu) makin sombong.
Jangan diajar anak harimau makan daging.
Jangan digembirakan anak orang yang berkuasa berbuat zalim.
Jangan memanah ke langit.
Jangan menderhaka kepada negeri atau pemerintah karena yang serupa itu akan membinasakan diri sendiri.
Jangan menggegai sempada di bawah batang.
Bahaya jangan dicari-cari.
Jangan menggerak ular tidur.
Bahaya jangan dicari-cari.
Jangan merempuh sarang lebah.
Bahaya jangan dicari-cari.
Jangan puntung berasap jua.
Perselisihan (perkara) yang sudah selesai itu jangan diungkit-ungkit lagi.
Jangan sudah terperosok, baru hendak membaiki lantai.
Sesudah mendapat kecelakaan baru hendak beringat-ingat.
Jangat liat kurang panggang.
Tidak dapat diajar; degil. (jangat = kulit binatang atau manusia di sini dimaksudkan kepada kulit kerbau atau lembu.)
Janji sampai, sukatan penuh.
Sudah sampai ajal.
Janjian antah tidak ceruh.
Nasib yang malang.
Jaras dikatakan raga jarang. (jaras = raga yang jarang anyamannya.)
Orang yang mencela orang lain, padahal dia sendiri pun ada celanya juga; orang yang tiada ilmu kerap kali salah pilih.
Jaras katanya raga jarang.
Orang yang mencela orang lain, padahal dia sendiri pun ada celanya juga; orang yang tiada ilmu kerap kali salah pilih.
Jari kudung dimasukkan cincin.
Berbuat sesuatu tidak pada tempatnya.
Jaring berbangkit kuaran tiba.
Perhitungan yang salah.
Jarum halus kelindan sutera.
Tipu muslihat yang sangat halus.
Jatuh berjolok.
Memperoleh sesuatu karena diminta.
Jatuh berkait.
Memperoleh sesuatu karena diminta.
Jatuh di atas tilam.
Beruntung karena mendapat pangkat, isteri yang kaya dan sebagainya.
Jatuh dihimpit tangga.
Mendapat kesusahan silih berganti.
Jatuh tidak berkait (= berjolok).
Membuat sesuatu tanpa diminta.
Jauh bau bunga, dekat bau tahi (= kencing).
Sanak saudara, bila jauh selalu terkenang tetapi bila dekat selalu bertengkar.
Jauh berjalan banyak pemandangan, lama hidup banyak dirasa.
Banyak pengalaman.


 

Copyright 2014 Peribahasa - All Rights Reserved