|
|
|
| Kumpulan
Peribahasa Bijak |
|
|
|
Kumpulan peribahasa bijak yang indah untuk hidup yang lebih baik. Baca dan
dapatkan inspirasinya di bawah ini:
Awak rendah sangkutan tinggi.
Besar belanja daripada pendapatan. |
Awak yang payah membelah ruyung, orang lain yang beroleh sagunya. (ruyung = batang pohon enau).
Orang lain yang bersusah payah, orang lain pula yang mendapat faedahnya. |
Awal dibuat, akhir diingat.
Sebelum membuat sesuatu pekerjaan hendaklah difikirkan masak-masak supaya selamat pekerjaan itu. |
Awal dikenal akhir tidak, alamat badan akan rosak.
Orang yang tak berhati-hati lakukan pekerjaannya (yang baiknya saja yang diingat) tentulah akhirnya akan menyesal dan kecewa. |
Awan berarak ditangisi.
Merenungi kejadian yang telah lama berlalu. |
Ayam berinduk, sirih berjunjung.
Tiap-tiap yang lemah harus mendapat bantuan dan perlindungan. |
Ayam beroga itu, kalau diberi makan di pinggan emas sekalipun ke hutan juga perginya. (ayam beroga = ayam hutan.)
Bagaimana senangnya di negeri asing, ingat juga kita akan negeri sendiri. |
Badai pasti berlalu
Kesulitan hidup pasti akan berkurang dan akhirnya akan hilang |
Badan bersaudara; emas perak tiada bersaudara; kasih saudara sama ada, kasih bapa menokok harta yang ada, kasih ibu sama rata; kasih sahabat sama binasa.
Walaupun orang-orang lemah itu di bawah kuasa orang kuat, tetapi hatinya bebas lepas. |
Bagai air daun talas (= keladi).
Berusaha untuk mencari ilmu dengan tidak berhenti-henti; usaha dengan tidak mengenal jerih payah. |
Bagai ara hanyut.
Satu sama lain bertolong-tolongan. |
Bagai aur dengan tebing.
Tolong-menolong di antara satu sama lain. |
Bagai bunyi siamang kenyang.
Banyak cakapnya dan sebagainya karena mendapat kesenangan. |
Bagai ditembak putus tunggal. (putus tunggal = petir yang sangat keras bunyinya.)
Dialahkan oleh orang yang bodoh. |
Bagai gelombang dua belas.
Kehebatan langkah seseorang pendekar. |
Bagai kain menunjukkan corak bangsanya.
Rupa dan gaya seseorang menunjukkan asal usulnya. |
Bagai kayu lempung, ditebuk kumbang tembus-menembus. (kayu lempung = kayu ringan dan lunak.)
Orang yang lemah, mudah dianiaya oleh orang yang berkuasa. |
Bagai kuau mengigal (= menyesar). (kuau = sejenis burung; menyesar = menguak.)
Kehebatan rupa seseorang. |
Bagai melulus baju sempit, bagai terbuang kesisipan. (kesisipan = kemasukan duri dalam daging.)
Berasa senang karena terlepas daripada kesukaran. |
Bagai menelan mestika embun.
Mendengar nasihat yang baik. |
Bagai mestika embun .
Mendengar nasihat yang baik. |
Bagaimana ditanam, begitulah dituai.
Berbuat jahat dibalas jahat; berbuat baik dibalas baik. |
Bagaimana pohon tiada akan tumbang dipanah halilintar, baluhan kulit ada di batangnya. (baluhan = batang yang sudah berlubang seperti gendang.)
Orang yang bersahabat dengan orang jahat akhirnya akan ikut terlibat juga dalam kejahatannya. |
Bahasa dan bangsa itu tidak dijual beli.
Baik buruk adat kelakuan orang menunjukkan tinggi rendah keturunannya (asal usulnya). |
Baik berjagung-jagung, sementara padi belum masak.
Sementara belum ada yang lebih baik, maka yang kurang baik pun baiklah dipakai dulu. |
Baik membawa resmi ayam betina, supaya tidak ada bencana. (resmi = sifat.)
Lebih baik merendahkan diri, supaya selamat dalam hidup. |
Baik membawa resmi padi, daripada membawa resmi lalang.
Tidak sombong; rendah diri. |
Bak anjing tersepit.
Ketika menderita merendah diri meminta tolong, terlepas daripada kesusahan, meninggikan diri kembali. |
Banyak udang banyak garam, banyak orang banyak ragam.
Tiap-tiap orang mempunyai pendapat (kemauan) sendiri-sendiri; makin banyak orang makin banyak pula pendapat dan kemauannya. |
Barang di mana pun pantat periuk itu hitam juga.
Di mana pun juga kesalahan tetap kesalahan. |
Bawa resmi padi, makin berisi makin tunduk.
Makin banyak ilmu atau makin tinggi pangkat makin merendah diri. |
Belakang parang lagi kalau diasah niscaya tajam.
Biar bodoh sekalipun kalau belajar dengan bersungguh-sungguh, niscaya akan menjadi pandai juga. |
Belayar bernakhoda, berjalan dengan yang tua, berkata dengan yang pandai.
Segala pekerjaan, baik dikerjakan dengan pimpinan orang yang telah berpengalaman. |
Belayar mengadang (= menentang, menuju) pulau.
Tiap-tiap perbuatan (pekerjaan) mestilah ada tujuannya. |
Belayar sambil memapan, merapat sambil belayar. (memapan = memasang papan untuk dinding, lantai dan sebagainya.)
Sekali melakukan pekerjaan dua tiga maksud tercapai. |
Belum bertaji hendak berkokok.
Belum berilmu sudah hendak menyombong. |
Belut kena ranjau (= getah).
Sepandai-pandai orang, ada kalanya salah juga. |
Bembam bukan terung.
Menceritakan kelebihan diri sendiri; tidak dapat diperlakukan dengan sesuka hati. |
Berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ke tepian; bersakit-sakit dulu, bersenang-senang kemudian.
Supaya mendapat kesenangan kelak, harus berani bersusah payah dahulu. |
Berani hilang tak hilang, berani mati tak mati.
Siapa yang berani akhirnya akan menang juga. |
Berani karena benar, takut karena salah.
Bertindak karena berada di pihak yang benar. |
Berani menjual berani membeli, berani pegang berani tanggung.
Barang siapa berani menganjurkan, harus berani mengerjakannya. |
Berapa panjang lunjur, begitulah panjang selimut.
Berbuat sesuatu hendaklah menurut kesanggupan diri sendiri. |
Berapalah tajam pisau parang, tajamlah lagi mulut manusia.
Mulut itu lebih tajam daripada senjata. |
Berat beban yang sedikit dek hati sakit.
Kerja yang dipaksa biar berapa ringan sekalipun akan terasa berat juga. |
Berat hati beratlah tulang.
Pekerjaan yang dilakukan dengan enggan akan terasalah beratnya. |
Berat sama dipikul, ringan sama dijinjing.
Suka duka sama-sama ditanggung. |
Berat sepikul, ringan sejinjing.
Baik buruk sama-sama dipikul; bekerja gotong-royong. |
Berbilang dari esa, mengaji dari alif.
Jika mengerjakan sesuatu hendaklah dimulai dari permulaan. |
Bercampur dengan orang pemaling, sekurang-kurangnya jadi pencecak. (cecak = copet.)
Bercampur dengan orang jahat, lama-kelamaan kita akan menjadi jahat pula. |
Berdua terkunci, bertiga terbuka.
Rahasia hanya dapat disimpan di antara dua orang saja. |
Berhambakan tangan, bersaksikan mata, berhakimkan hati.
Berfikirlah dulu dengan masak-masak sebelum membuat sesuatu perkara. |
Berharga di atas rupa, bercupak di atas tumbuh. (di atas rupa = melihat rupa; bercupak di atas tumbuh = adat diisi apabila sesuatu mengenai adat itu terjadi.)
Tiap-tiap sesuatu hendaklah pada tempatnya. |
Berjalan peliharakan kaki, berkata peliharakan lidah.
Hendaklah selalu beingat-ingat dalam melakukan sesuatu pekerjaan. |
Berjalan sampai ke batas, belayar sampai ke pulau.
Sesuatu usaha hendaklah dikerjakan sampai selesai. |
Berkata siang melihat-lihat, berkata malam mendengar-dengar.
Jika hendak membicarakan sesuatu, harus berhati-hati jangan sampai menyinggung perasaan orang. |
Berkaul kepada (= ke tempat) keramat.
Meminta sesuatu hendaklah pada tempatnya. |
Berkayuh sambil bertimba.
Sekali melakukan pekerjaan dua tiga maksud tercapai. |
Berkelahi dulu pendapatan, berkelahi kemudian kerugian.
Fikirkan masak-masak, sebelum berbuat sesuatu supaya jangan menyesal. |
Berketak ayam di darat, bersenyap-senyap mutiara di laut.
Orang bodoh suka menunjukkan kerja yang dibuatnya, tetapi orang yang bijaksana membuat kerja hanya dengan diam-diam saja. |
Berkubu sebelum alah.
Berjaga-jaga sebelum mendapat kesusahan. |
Bermain air basah, bermain api letur, bermain pisau luka.
Tiap-tiap perbuatan atau pekerjaan akan meninggalkan akibatnya. |
Bermimpi mendapat emas, takkan membuat pura; bermimpi mendapat padi, takkan membuat lumbung.
Menasihati supaya membuat perdamaian dalam sesuatu perselisihan, pandanglah perselisihan itu seperti mimpi yang tak dapat diterima sebagai suatu kenyataan. |
Berminyak biar lecah (= licin).
Janganlah kepalang tanggung dalam melakukan sesuatu pekerjaan. |
Cekel berhabis, lapuk berteduh. (cekel = kikir, pelit).
Biarpun kikir namun harta akan habis juga akhirnya atau hilang percuma saja. |
Cencang dua segeragai. (geragai = pengait untuk menangkap buaya).
Sekali jalan, dua tiga pekerjaan selesai. |
Cencaru makan petang.
Pekerjaan yang lambat mendatangkan hasil yang baik. |
Cepat tangan terjembakan, cepat kaki terlangkahkan, cepat mulut terkatakan.
Jika kurang fikir atau kurang hemat dalam sesuatu perbuatan, maka tangan dan kaki serta mulut dapat menimbulkan kesusahan. |
Cerdik perempuan meleburkan, saudagar muda menghutangkan.
Menuruti orang yang belum panjang pikirannya itu acap kali mendatangkan kesusahan. |
Cermat masa banyak, jimat masa sedikit.
Selalu berhati-hati dalam membelanjakan (menggunakan) sesuatu. |
Cium tapak tangan, berbaukah atau tidak?
Lihat diri sendiri terlebih dulu sebelum mencela orang lain. |
coba-coba menanam mumbang, jika tumbuhan sunting (= suri, turus) negeri.
Kerjakan terus walaupun kurang berharga, barangkali ada juga hasilnya kelak. |
Cubit paha sendiri dulu, baru cubit paha orang lain.
Pandang pada diri sendiri dulu, sebelum memandang pada orang lain. |
Datang nampak muka, pergi nampak belakang.
Datang dengan baik, pergi pun harus dengan baik pula; orang yang datang atau pergi hendaklah memberitahu. |
Datang tampak muka, pulang tampak punggung.
Datang dengan baik, pergi pun harus dengan baik pula; orang yang datang atau pergi hendaklah memberitahu. |
Dek sukar berkampuh ijuk, nan adat diturut juga.
Adat yang tak boleh ditinggalkan, walaupun hidup melarat. |
Dengar cakap enggang, makan buah beluluk; dengar cakap orang, terjun masuk lubuk.
Sesuatu pekerjaan itu hendaklah difikirkan sendiri masak-masak sebelum dikerjakan dan jangan sekali-kali mendengar cakap orang. |
Deras datang dalam kena.
Pekerjaan yang terburu-buru itu kelak akan mendatangkan kerugian. |
Di laut angkatan, di darat kerapatan.
Kekuatan di laut bergantung kepada angkatan perang, kekuatan di darat bergantung kepada persatuan. |
Di mana kapak jatuh, di situ baji makan.
Di mana timbul perkara di situlah diselesaikan. |
Di mana kayu bengkok, di sanalah musang meniti.
Tempat yang tidak dijaga baik-baik, di situlah pencuri datang; siapa lengah akan mendapat bencana; orang yang bodoh mudah kena tipu. |
Di mana kelintung berbunyi, di situ kerbau tinggal diam.
Di mana perintah yang baik, di situ rakyat hidup rukun dan damai; negeri yang aman, ramai penduduknya. |
Di mana tembilang terentak, di situ cendawan tumbuh.
Di mana timbul perkara di situlah diselesaikan. |
Di mana tumbuh, di situ disiang.
Jika terjadi suatu perkara atau perselisihan, hendaklah diperiksa dan diselesaikan di situ juga. |
Di manakah berteras kayu mahang.
Sesuatu yang mustahil tak usah diharapkan sangat. |
Diam penggali berkarat.
Ilmu yang disimpan saja lama-kelamaan akan hilang. |
Diam-diam ubi berisi, diam besi (= penggali) berkarat.
Pendiam tetapi berfikir atau banyak pengetahuan; bekerja dengan diam-diam. |
Dian sebatang dinyalakan hujung pangkalnya, teraba-teraba sudahnya.
Orang yang membazir tak dapat tiada akan menghadapi kesusahan. |
Dibuang yang keruh, diambil yang jernihnya.
Yang buruk dibuang, yang baik diambil (dipakai). |
Dicukur-cukur rambut, tumbuh juga semula.
Tabiat jahat lambat-laun akan berbalik semula. |
Diindang ditampi teras, dipilih antah satu-satu.
Jika hendak mencari isteri, menantu atau pegawai hendaklah diusul periksa betul-betul jangan tersalah pilih. |
Dikulum menjadi manikam, dimuntahkan (= diludahkan) menjadi sekam.
Diam itu lebih baik daripada berkata-kata. |
Dilelar timba ke perigi; tak sekali, sekali pecah juga. (lelar = berulag-ulang).
Sesuatu perbuatan yang tak baik itu jika diulang maka lambat-laun jahat juga padahnya. |
Diperluas parak, tidak disiangi.
Kalau mata pencarian sudah bertambah, hendaklah dijaga dengan baik-baik. |
Disangkakan langit itu rendah: dipandang dekat, dicapai tak dapat.
Sesuatu pekerjaan hendaklah dicoba membuatnya lebih dulu sebelum dikatakan mudah atau susah. |
Ditangkap buaya, nampak riaknya; ditangkap malas tak bertanda.
Sifat malas seseorang tak dapat dilihat sebelum disuruh membuat sesuatu kerja. |
Ditumbuk dikisar barulah lumat.
Hendaklah berusaha dengan bersungguh-sungguh hati untuk memperoleh sesuatu barang yang dikehendaki. |
Diturutkan gatal tiba ke tulang.
Jika diturut kehendak hawa nafsu, akhirnya jadi binasa. |
Dulukan yang dulu merasa garam.
Mengutamakan orang tua-tua di dalam sesuatu pekerjaan. |
Durian dengan mentimun, menggolek rusak, kena golek binasa.
Orang yang lemah itu tidak berdaya untuk melawan orang yang berkuasa, karena baik, salah ataupun benar dia juga yang menanggung kerugian. |
|
|
|